Ekonomi
Beranda / Ekonomi / Katanya Ekonomi Sulit, Tapi Kredit BNI Tumbuh 24,4 Persen Sepanjang Semester I 2026

Katanya Ekonomi Sulit, Tapi Kredit BNI Tumbuh 24,4 Persen Sepanjang Semester I 2026

Direktur Risk Management BNI David Pirzada Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena (Foto: BNI)

Jakarta, ArthaBhumi.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan kinerja yang solid pada semester I 2026 di tengah tantangan likuiditas perbankan serta dinamika ekonomi dan geopolitik global. Perseroan mencatat pertumbuhan kredit 24,4% secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun, didukung ekspansi yang selektif dan diversifikasi portofolio.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan di Jakarta, Rabu (5/8/26) mengatakan perseroan terus memperkuat fundamental bisnis melalui pertumbuhan berkualitas, transformasi digital, dan penguatan organisasi yang sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia.

Hingga Juni 2026, pengguna wondr by BNI mencapai 15,1 juta dengan volume transaksi naik 110% secara tahunan. Sementara pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu dengan nilai transaksi meningkat 17% menjadi Rp6.039 triliun. Program transformasi jaringan BRAVE juga telah diterapkan di seluruh kantor operasional untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat layanan di daerah.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan penguatan intermediasi ditopang pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 11,2% sehingga rasio CASA tetap terjaga di level 65,4%. Cost of fund dana pihak ketiga juga membaik menjadi 2,56% dari 2,78% pada periode yang sama tahun lalu.

Menkeu: Kurang dari 24 Jam, Bea Cukai Gagalkan Dua Penyelundupan Emas Senilai Rp63 Miliar

Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan bunga bersih (NII) tumbuh 14,2% menjadi Rp22,3 triliun, sementara pendapatan berbasis komisi (fee-based income) juga meningkat 14,2% menjadi Rp9 triliun. Kondisi tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) mencapai rekor Rp18,5 triliun dan laba bersih sebesar Rp10,8 triliun.

Kualitas aset juga membaik dengan rasio loan at risk (LAR) turun menjadi 8,1% dari 11%, sedangkan non-performing loan (NPL) terjaga di level 1,9%. Direktur Risk Management BNI David Pirzada menegaskan pencapaian tersebut merupakan hasil penerapan manajemen risiko yang disiplin dan penguatan sistem peringatan dini.

Memasuki semester II 2026, BNI akan terus memperkuat struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas, meningkatkan transformasi digital dan BRAVE, serta mempertahankan kualitas aset untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.