Jakarta, Arthabhumi.id – PT Jasa Marga (Persero) Tbk mengoptimalkan jaringan dan portofolio jalan tol sekaligus mengembangkan sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti.
Strategi ini ditempuh untuk memastikan skala bisnis dan aset yang dimiliki Perseroan mampu memberikan kontribusi optimal terhadap pertumbuhan dan penciptaan nilai jangka panjang.
“Dengan fundamental bisnis dan kondisi finansial yang sehat, menjadi fondasi yang kuat untuk terus mengoptimalkan portofolio aset, sekaligus mencetak pertumbuhan nilai yang berkelanjutan (value creation),” ujar Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Kinerja tersebut tercermin dari capaian Jasa Marga hingga Semester I/2026. Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp10,31 triliun, tumbuh 7,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan terutama ditopang oleh bisnis tol yang menghasilkan pendapatan sebesar Rp9,5 triliun, meningkat 6,8% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan usaha lainnya mencapai Rp798,2 miliar, melonjak 17,6% secara tahunan.
Pertumbuhan pendapatan tersebut turut memberikan dampak positif terhadap profitabilitas. EBITDA Jasa Marga meningkat 8,1% menjadi Rp6,99 triliun, dengan EBITDA margin tetap solid di level 67,8%.
Adapun laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,91 triliun, tumbuh 2% secara tahunan.
Dari sisi struktur keuangan, profil risiko utang Perseroan tetap terkendali. Gearing ratio berada pada level 1,2 kali, sedangkan Interest Coverage Ratio (ICR) meningkat menjadi 3,9 kali.
Kondisi tersebut menunjukkan kemampuan Jasa Marga dalam menjaga kewajiban finansial sekaligus mempertahankan ruang pendanaan untuk melanjutkan investasi strategis dan ekspansi bisnis.
Mengoptimalkan Skala Jaringan
Kekuatan utama Jasa Marga juga tercermin dari skala jaringan jalan tol yang dikelola. Hingga 30 Juni 2026, Perseroan memiliki 36 konsesi dengan total panjang mencapai 1.736 kilometer.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1.294 kilometer jalan tol telah beroperasi. Angka tersebut merepresentasikan sekitar 42% dari total jalan tol yang beroperasi di Indonesia.
Besarnya skala jaringan memberikan keuntungan strategis bagi Jasa Marga untuk mengelola ruas-ruas jalan tol sebagai satu kesatuan portofolio dan jaringan yang saling terkoneksi.
Pendekatan tersebut tidak hanya memberikan peluang untuk meningkatkan utilisasi jaringan, tetapi juga membuka potensi ekonomi baru di sepanjang koridor jalan tol.
Dengan demikian, pertumbuhan Jasa Marga ke depan tidak semata-mata bergantung pada peningkatan volume lalu lintas dan pendapatan tol. Perseroan mulai mengembangkan ekosistem bisnis yang memanfaatkan aset, jaringan, dan koridor yang telah dimiliki.
Membangun New Value Pools
Strategi tersebut diwujudkan melalui pengembangan ekosistem di sepanjang koridor jalan tol untuk menciptakan sumber pendapatan baru atau new value pools.
Salah satunya melalui transformasi Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) menjadi Travoy Rest. Pengembangan rest area tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pengguna jalan, tetapi juga diarahkan menjadi ruang aktivitas ekonomi.
Konsep tersebut membuka peluang untuk memperluas akses pasar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk memperkenalkan produk-produk lokal kepada pengguna jalan tol.
Selain itu, Jasa Marga mulai mengembangkan sejumlah lini bisnis prospektif di luar bisnis utama, antara lain building management, advertising, utilitas, serta pengembangan Transit Oriented Development (TOD) dan Toll Corridor Development (TCD).
Diversifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya Perseroan meningkatkan produktivitas aset sekaligus menangkap nilai ekonomi yang muncul dari keberadaan jaringan jalan tol.
Di sisi lain, optimalisasi ekosistem tersebut diperkuat dengan pemanfaatan teknologi. Jasa Marga mengoperasikan Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC) sebagai pusat integrasi informasi lalu lintas dan kondisi jalan secara real-time.
Sementara itu, aplikasi Travoy dikembangkan untuk mengintegrasikan berbagai kebutuhan perjalanan pengguna jalan tol dalam satu platform digital.
“Teknologi kami tempatkan sebagai enabler untuk membuat operasional semakin efektif, pengelolaan aset semakin akurat, dan layanan kepada pengguna semakin terintegrasi,” kata Rivan.
Transformasi tersebut juga menyasar aspek internal melalui penguatan budaya kerja atau infraculture berbasis nilai budaya JSMR MOVE.
Dengan dukungan analitik data sumber daya manusia (HC Analytics), Perseroan berupaya membangun talenta yang lebih lincah dan adaptif terhadap perubahan industri infrastruktur.
Strategi ini menunjukkan arah transformasi Jasa Marga yang mulai bergeser dari sekadar operator jalan tol menjadi pengelola ekosistem infrastruktur berbasis koridor.
Dengan jaringan yang besar, arus kas yang kuat, serta pengembangan bisnis non-tol, Perseroan memiliki ruang untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru tanpa sepenuhnya bergantung pada kenaikan tarif maupun volume lalu lintas.
Ke depan, tantangannya adalah memastikan ekspansi bisnis tersebut tetap menghasilkan return yang menarik, tidak menggerus kesehatan neraca, dan benar-benar meningkatkan nilai aset yang telah dimiliki Jasa Marga.

