Jakarta, Artha Bhumi.id – Analis Stockbit mengungkapkan bahwa Aneka Tambang ($ANTM) mencatat laba bersih Rp1,2 triliun pada 4Q25 (-3% QoQ, -15% YoY), sehingga laba bersih selama 2025 mencapai Rp7,2 Triliun (+98% YoY) dan di bawah ekspektasi (94% estimasi 2025F konsensus, vs. 9M25: 81% estimasi 2025F konsensus).
Hasil tersebut dipengaruhi oleh one–off items yang mencatatkan beban secara net sebesar Rp750 Miliar pada 4Q25.
Rinciannya: 1) impairment aset tetap sebesar Rp951 M, yang kami duga terkait smelter PT Feni Haltim; 2) keuntungan dari reversal provisi kasus emas batangan sebesar Rp1,43 T; 3) biaya regulasi sebesar Rp1,1 T, yang kami duga terkait pencadangan potensi sanksi pembukaan kawasan hutan; 4) imbalan kontinjensi sebesar Rp620 M dari penyesuaian nilai wajar divestasi 49% kepemilikan PT Sumberdaya Arindo; dan 5) beban umum dan administrasi lainnya sebesar Rp892 M (vs. 3Q25: Rp106 M) untuk demobilisasi pembangkit PLN proyek Haltim sesuai amandemen PJBTL.
Dalam earnings call pada Rabu (8/4), diskusi antara manajemen ANTM dan pelaku pasar berfokus pada supply emas, ruang peningkatan kuota produksi dari revisi RKAB nikel, dan progres ekspansi.
Berikut poin–poin utamanya:
Emas: Dorong Pengadaan Pasokan dari Lokal, Incar Volume Penjualan 2026 Menyamai All–Time High 2024
Volume penjualan emas ANTM selama 2025 turun ke level ~37,4 ton (vs. 2024: 43,8 ton), tertekan oleh disrupsi Freeport Indonesia akibat force majeure di tambang Grasberg.
Manajemen ANTM optimistis volume penjualan selama 2026 dapat menyamai atau melebihi all–time high perseroan yang dicatat pada 2024 di 1,4 juta oz. Run–rate volume penjualan hingga Maret 2026 on–track dengan target tersebut, meski harga fluktuatif.
Manajemen menargetkan pasokan emas dari domestik akan naik ke kisaran 50–60% pada 2026, seiring ramp–up dari Amman Mineral Internasional ($AMMN), Merdeka Gold Resources ($EMAS), dan Freeport. Sebagai perbandingan, pasokan emas ANTM dari domestik selama 2025 berada di level ~40%, sementara ~60% dari impor.
Nikel: Amankan Kuota Penuh dalam RKAB
ANTM mendapatkan kuota produksi bijih secara penuh dalam RKAB 2026 sebesar 18,1 juta wmt (vs. RKAB 2025: 16,4 juta wmt).
Manajemen menargetkan cash cost selama 2026 berada di kisaran US$21–24/wmt (vs. 2025: ~US$21,5/wmt, termasuk royalti baru).
Manajemen menilai bahwa peluang revisi naik RKAB di industri nikel nasional pada pertengahan 2026 tidak akan menggeser supply–demand dan harga secara signifikan. ANTM tidak agresif meningkatkan kuota dalam window revisi RKAB, mengingat perseroan sudah dapat kuota penuh.
Terkait wacana pemerintah untuk menaikkan harga patokan mineral (HPM) nikel, manajemen menilai dampaknya terhadap harga jual akan terbatas, dengan perubahan akan lebih terasa pada kombinasi premium dan baseline HPM.
Manajemen tidak membahas spesifik terkait dampak wacana pemerintah untuk menerapkan bea ekspor nikel olahan. Pemerintah sendiri hingga saat ini masih membahas tarif bea ekspor nikel olahan.
Manajemen menyebut provisi non–cash untuk PPKH pada 4Q25 tergolong konservatif, dengan jumlah final sudah ter–capture pada laporan keuangan 2025.
Bauksit & Alumina: Commissioning Tahap 1 pada 1Q26
ANTM memperoleh kuota produksi bauksit sebesar 4,8 juta wmt dalam RKAB 2026, dengan kuota sebesar ~3 juta wmt akan dialokasikan untuk tambang Tayan dan sisanya untuk tambang Mempawah.
SGAR Mempawah — yang secara efektif dimiliki 40% oleh ANTM — telah melaksanakan commissioning tahap pertama pada 1Q26, dengan kualitas output sesuai standar Inalum dan ekspor.
Manajemen menjelaskan bahwa diskusi dengan Inalum dan MIND ID untuk tambahan kapasitas SGAR sebesar 1 juta ton masih dalam tahap feasibility study.
Finansial: Posisi Kas Solid, Jumlah Dividen Bergantung Pemegang Saham
Manajemen tidak memberikan indikasi jumlah dividen untuk tahun buku 2025, di mana keputusan tersebut akan bergantung pada pemegang saham.
Meski demikian, ANTM memiliki likuiditas yang solid dengan kas ~Rp8 T, dengan Rp2,5–3 T sebagai working capital gold.
ANTM akan mengalokasikan capex ~Rp7 T atau ~US$400 juta selama 2026. Sebanyak ~Rp3,3 T di antaranya akan dialokasikan kepada Project Dragon. Sisanya untuk fasilitas precious metal refinery Gresik dan commissioning PT Feni Haltim.
Terkait kenaikan harga minyak terhadap cash cost sensitivity, manajemen menjelaskan bahwa jika harga minyak Brent mencapai US$130/barrel, maka cash cost akan naik sekitar +12% ke ~US$24/wmt, dengan dampak terhadap laba bersih hanya berkisar 2–3% (~Rp2T), menunjukkan buffer margin tebal.

