Jakarta, Artha Bhumi.id – Pemerintah melalui Kementerian ESDM merevisi formula harga patokan mineral (HPM) untuk bijih nikel dan bauksit. Revisi formula tersebut — yang ditujukan untuk mengoptimalkan pendapatan negara — akan berlaku efektif per 15 April 2026.
Dilansir dari Stockbit, sejumlah perubahan yang terdapat dalam revisi formula baru antara lain:
- HPM Bijih Nikel Perhitungkan Kandungan Mineral Lain — Formula baru untuk bijih nikel akan memperhitungkan kandungan besi, kobalt, dan kromium. Sebelumnya, hanya kandungan nikel yang dipertimbangkan sebagai bagian dari perhitungan.
- Corrective Factor Naik — Formula baru akan menaikkan variabel kunci yang digunakan dalam menghitung HPM bijih, yang dikenal sebagai corrective factor. Corrective factor untuk bijih nikel dalam formula baru dinaikkan menjadi 30% untuk bijih dengan kandungan nikel 1,6%, naik dari formula sebelumnya di 20% untuk kandungan nikel 1,9%.
- Satuan Ukuran Diubah ke Wmt — Satuan ukuran dalam formula HPM baru untuk semua mineral — termasuk bijih nikel, bauksit, kobalt, dan tembaga — diubah menjadi wet metric ton (wmt), dibandingkan sebelumnya dry metric ton (dmt).
Dampak ke HPM: Bijih Nikel Limonit Diestimasikan Naik +131% ke US$40,13/wmt
Menyusul perubahan formula tersebut, Shanghai Metals Market memperkirakan bahwa HPM baru untuk bijih nikel kadar 1,2% akan naik +131% dari US$17,33/wmt menjadi US$40,13/wmt, berdasarkan harga benchmark per 1 April 2026.
Harga rata–rata bijih nikel laterit lokal Indonesia dengan kadar 1,2% (delivered–to–port) versi Shanghai Metals Market saat ini berada di US$28,5/wmt, masih di bawah HPM baru. Jika HPM berfungsi sebagai harga minimum, harga jual bijih limonit kadar 1,2% pasca–15 April 2026 akan menyentuh US$40,13/wmt.
Dampak ke Smelter HPAL: Biaya Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) untuk Bijih Non–captive
Berdasarkan perhitungan Shanghai Metals Market, biaya produksi MHP dari bijih limonit yang dibeli dari eksternal (non–captive) diperkirakan naik ~US$1.700/ton nikel.
Tekanan Tambahan pada Margin Smelter HPAL
Kenaikan harga bijih limonit yang dibeli secara non–captive berpotensi menjadi tambahan tekanan baru pada margin smelter HPAL yang memproduksi MHP, mengingat biaya bahan baku lain seperti sulfur telah melonjak seiring gangguan supply akibat perang Iran.
Reuters pada Selasa (14/4) melaporkan bahwa lonjakan harga sulfur belakangan ini telah memaksa beberapa smelter HPAL di Indonesia untuk mengurangi produksi MHP setidaknya -10% sejak bulan lalu. Narasumber anonim Reuters menyebut bahwa smelter–smelter yang terkena dampak termasuk fasilitas yang didukung oleh perusahaan–perusahaan China seperti Huayou Cobalt, Lygend Resources, dan Tsingshan Group. Perusahaan–perusahaan tersebut belum menanggapi kabar ini.
Reuters melaporkan bahwa harga sulfur di pasar spot yang dikirim ke Indonesia telah naik di kisaran US$800–1.000/ton, jauh lebih tinggi dibandingkan harga sebelum perang Iran meletus di kisaran US$500/ton. Menurut Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia, Arif Perdana Kusumah, kenaikan harga tersebut membuat biaya sulfur saat ini menyumbang sekitar 30–35% dari biaya operasional HPAL, naik dari level normal di kisaran 25%.
Reuters melaporkan pada Maret 2026 bahwa beberapa smelter HPAL di Indonesia hanya memiliki persediaan sulfur yang cukup untuk 1–2 bulan, sehingga pemotongan produksi kemungkinan akan terjadi pada April 2026 jika pasokan tidak pulih.
“Dengan catatan tidak ada perubahan regulasi lanjutan, bijih nikel kadar ≤1,5% sebagai feedstock baterai EV domestik akan tetap dikenakan tarif istimewa 2% sesuai PP No. 19/2025. Dari sisi industri, dampak revisi formula HPM bijih nikel kemungkinan cenderung positif bagi industri upstream nikel, khususnya pada produsen bijih limonit. Meski demikian, realisasinya masih perlu dicermati lebih lanjut mengingat belum ada emiten yang menjual limonit langsung ke pihak ketiga,” kata analis Stockbit.
Berikut rinciannya:
Saprolit — Upside Terbatas
Harga jual aktual selama ini sudah mengandung premium di atas HPM lama. Dengan HPM baru yang naik signifikan, premium tersebut kemungkinan menyusut sebagai penyeimbang. Akibatnya, kenaikan harga jual rata–rata (ASP) efektif akan lebih moderat dibanding lonjakan HPM nominalnya. Upside tambahan berasal dari harga jual yang lebih tinggi karena memperhitungkan unsur lainnya.
Limonit — Upside Lebih Besar
Potensi upside lebih besar karena selama ini tidak ada premium yang terbentuk di pasar (minim transaksi eksternal). Meski demikian, belum ada emiten di BEI yang menjual bijih limonit langsung ke pihak ketiga karena biaya logistik untuk pengiriman jarak jauh yang kurang ekonomis. Akibatnya, penjualan bijih limonit umumnya terintegrasi ke smelter HPAL di kawasan yang sama, yang umumnya juga dimiliki oleh pemilik tambang itu sendiri.
Midstream — Tekanan Margin dari 2 Bahan Baku Utama
Produsen MHP yang menggunakan bijih limonit dari pihak ketiga akan menghadapi tekanan margin tambahan, di tengah biaya sulfur yang masih tinggi dan harga nikel London Metal Exchange yang tidak naik signifikan. Meski sebagian besar emiten nikel BEI relatif terlindungi berkat tambang yang terintegrasi dengan fasilitas smelter HPAL, kami menilai setiap emiten cenderung akan menurunkan utilisasi smelter HPAL jika harga sulfur tetap tinggi dan tidak mampu mengkompensasi margin yang kian menipis.

