Jakarta, Artha Bhumi.id – PT PLN Nusantara Power (PLN NP) mengandalkan energi domestik untuk menjaga keandalan pasokan listrik nasional di tengah perang Iran dengan AS-Israel yang berpotensi memicu krisis energi. Situasi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat fondasi ketahanan energi nasional.
“Di tengah tekanan geopolitik global, kami memastikan pasokan listrik tetap andal dengan mengoptimalkan energi domestik dan mempercepat digitalisasi pembangkit. Kami ingin pasokan energi yang terpercaya, harga yang pasti, energi yang terjangkau, dan semakin bersih. Karena itu, energi baru terbarukan bukan lagi pilihan, tetapi keharusan,” ujar PLN NP saat ini mengelola kapasitas pembangkit sebesar 18,3 GW di Jakarta, Kamis (16/4/26).
PLN NP mengandalkan batu bara dan gas sebagai tulang punggung (backbone) pembangkitan. Batu bara banyak ditemukan di dalam negeri, artinya mengurangi ketergantungan terhadap energi impor yang rentan terhadap fluktuasi global.
Di sisi lain, efisiensi ditingkatkan melalui pengendalian Specific Fuel Consumption (SFC) serta optimalisasi heat rate untuk menjaga biaya pembangkitan tetap kompetitif.
PLN NP juga mengedepankan pendekatan berbasis teknologi melalui implementasi predictive maintenance dan digital monitoring secara real-time. Inisiatif ini diwujudkan melalui pengembangan smart power plant dan Nusantara Control Center (NuCC), yang mampu menekan downtime, meningkatkan efisiensi, serta mempercepat respons terhadap gangguan.
Dalam jangka panjang, saat ini sebanyak 25 unit PLTU PLN NP telah mengimplementasikan co-firing biomassa sebagai langkah awal menuju pembangkitan rendah karbon.
Selain itu, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) serta sistem hybrid berbasis Battery Energy Storage System (BESS) juga terus didorong guna menjawab tantangan intermitensi energi baru terbarukan sekaligus meningkatkan fleksibilitas sistem.
PLN NP juga memastikan kesiapan sistem dalam menghadapi perubahan pola konsumsi listrik, termasuk pertumbuhan kendaraan listrik (EV). Fokus perusahaan tidak hanya pada penambahan kapasitas, tetapi juga pada kualitas dan fleksibilitas pasokan listrik.

