- Instruksi Presiden Prabowo, suku bunga PNM 8 Persen
- Laba bersih PNM 2025 Rp1,1 triliun
- Penurunan suku bunga PNM Mekaar berpotensi memangkas total pendapatan bunga dan margin PNM menjadi Rp5,2 triliun.
Jakarta, ArthaBhumi.id – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan penurunan suku bunga program Mekaar dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi 8 persen dari sebelumnya di level 24 persen. Penurunan suku bunga tersebut ditujukan untuk memperbaiki ketimpangan akses pembiayaan yang membebani pelaku usaha mikro. PNM merupakan anak usaha Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan kepemilikan 99,99%.
Lead Investment Analyst Stockbit, Edi Chandren mengkungkapkan bahwa kontribusi PNM bagi BBRI — Pada 2025, PNM mencatat pinjaman dan pembiayaan program Mekaar sebesar Rp45,4 triliun (setara ~3% pinjaman dan pembiayaan BBRI), dengan pendapatan bunga dan margin sebesar Rp14,7 triliun (setara ~7% pendapatan bunga dan pembiayaan BBRI). Laba bersih PNM selama 2025 sendiri mencapai Rp1,1 triliun (setara ~2% laba bersih BBRI).
“Potensi dampak bagi BBRI — Berdasarkan perhitungan kami, lending yield program Mekaar dari PNM pada 2025 adalah ~33%, lebih tinggi dari suku bunga yang disebut Presiden Prabowo. Menggunakan angka 2025 sebagai basis perhitungan, penurunan yield menjadi 9% — dengan asumsi ceteris paribus — berpotensi memangkas total pendapatan bunga dan margin PNM menjadi Rp5,2 triliun. Hal ini akan menyebabkan PNM membukukan rugi usaha sebesar ~Rp9,5 triliun (setara ~17% laba bersih BBRI), mengingat beban usaha PNM sendiri — termasuk beban provisi — mencapai Rp13 triliun pada 2025,” kata Edi Chandren dikutip Senin (18/5/26).
Jika rencana penurunan suku bunga ini terealisasi, berdasarkan estimasi, PNM beroperasi secara loss–making.
Menurutnya, wacana pengambilalihan PNM oleh Kementrian Keuangan dari BBRI sebagai opsi yang lebih baik dalam jangka panjang bagi investor BBRI dibandingkan PNM tetap berada di bawah BBRI
BP BUMN dan BRI Gelar Rapat Khusus
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menggelar rapat bersama jajaran Direksi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk serta Direksi dan Dewan Komisaris PT Permodalan Nasional Madani pada Senin (18/05). Langkah tersebut dilakukan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan akses pembiayaan bagi keluarga prasejahtera dan pelaku usaha ultra mikro semakin terjangkau dan tepat sasaran.
Fokus pembahasan mencakup penguatan akses permodalan bagi perempuan pelaku usaha ultra mikro dengan tetap menjaga keberlanjutan bisnis, kualitas pembiayaan, serta kesehatan ekosistem Ultra Mikro Holding. Penguatan program dilakukan agar manfaat pembiayaan tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga mampu menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Hingga saat ini, PNM Mekaar telah melayani lebih dari 16,2 juta nasabah kelolaan, dengan seluruh nasabah merupakan perempuan pelaku usaha ultra mikro. Program tersebut dinilai menjadi salah satu instrumen strategis dalam memperluas inklusi keuangan sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan di berbagai daerah.
Dalam pertemuan tersebut, Dony Oskaria menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan program pembiayaan ultra mikro agar dapat terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
“Penguatan pembiayaan ultra mikro harus mampu memperluas akses usaha masyarakat sekaligus mendorong kemandirian ekonomi keluarga secara berkelanjutan,” ujar Dony.
BP BUMN dan Danantara mendukung penguatan program pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi kerakyatan. Melalui sinergi antar BUMN, program pembiayaan ultra mikro diharapkan semakin mampu meningkatkan kapasitas usaha masyarakat, memperluas akses ekonomi produktif, serta menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang lebih merata di seluruh Indonesia.

