Energi Opini
Beranda / Opini / Deadlock Islamabad, Membaca “Trade-Off Gambit” AS-Iran

Deadlock Islamabad, Membaca “Trade-Off Gambit” AS-Iran

Ilustrasi Perang Iran-AS dan Israel (Foto: AI)

Oleh: Sabpri Piliang, Pengamat Timur Tengah

PERANGKAT militer, tak bisa melawan posisi geografis. Memiliki bom, tak punya “kartu truf”, kelemahan! Iran, tak menghindari “impasse”, “stalemate”, dan “deadlock”. Maknanya, buntu!

Berasumsi, cukup sederhana. Mengapa harus Wapres JD Vance yang diutus ke Islamabad? Apa tidak ketinggian? Begitu daruratkah, dan mengapa tidak Menlu Marco Rubio, Steve Witkoff-Jared Kushner saja?

Frasa ketiganya (impasse, stalemate, dan deadlock), merupakan sarana Iran menekan AS , agar mampu mengendalikan Israel, dan tidak menarik statemen Lebanon.

PGE-PLN IP Sepakati Tarif Listrik, Proyek PLTP Lahendong Bottoming Unit 15 MW Melangkah ke Tahap Berikutnya

“Deadlock” adalah langkah mati, dan Iran sepertinya siap untuk “deadlock”. Realitasnya, memang “impasse” (deadlock). JD Vance telah kembali ke Washington, tanpa hasil. Apa yang akan dilakukan AS? Kembali membom Iran?

Memahami keunggulannya ‘unipolar’-nya (dalam 21 jam pembicaraan), AS memaksakan kehendak, dan Iran “diehard”! Keberanian delegasi pimpinan Muhammad Bagher Ghalibaf menolak AS, satu hal ‘lateral’.

“Deadlock”? Statemen Wapres AS JD Vance menyebut, diskusi substantif sudah berjalan, dengan kabar buruk. Tidak tercapai kesepakatan menyangkut program nuklir.

Upaya Pakistan sebagai pihak ke-3, agar ada solusi, nihil. Pakistan bukanlah ‘arbitrator’ yang dapat memaksa jalan tengah untuk disetujui AS-Iran. Sebagai mediator, Pakistan hanya bisa mem-fasilitasi solusi. Apa boleh buat.

Pakistan tak berdaya dengan ‘posisional’ AS-Iran. “Trade-off gambit” (permintaan konsesi dalam negosiasi) AS, merupakan “garis merah menyangkut “tulang sumsum” Iran, di samping Selat Hormuz. Perang, atau tidak, Iran akan terus diperangi

Tentu menjadi unik! Iran yang dikesankan dari banyak narasi Trump, sebagai (telah hancur), berani melakukan “trade-off”. Semacam ‘win win’, di mana konsesi yang diminta AS, dibalas permintaan konsesi Iran.

Sepertinya, titik terang itu ada. AS setuju mencairkan dana blokir Iran (milik Iran) sebesar US$ 6 milyar (tersimpan di Qatar),sekaligus mengikutsertakan Lebanon dalam paket gencatan senjata.

Hanya saja, “trade-off” penghapusan program nuklir yang diminta AS, menjadikan Iran rentan “dikerjai” Israel di masa datang. Pertukaran konsesi, atau ‘take & give” AS-Iran, merupakan ‘nukleus’ ‘goal’ AS-Israel: sampai akhirnya rezim teokrasi tumbang.

Bagi Iran, pembukaan Selat Hormuz sebagai “trade-off” pencairan penjualan minyak Iran ke Korea Selatan (tersimpan di Qatar). Cukup ekual untuk dipertukarkan sebagai langkah perdamaian. Namun, tidak untuk nuklir.

“Trade-Off Gambit”, setiap kali pihak lawan (AS) meminta konsesi dalam negosiasi, maka pihak satunya lagi (Iran), harus secara otomatis meminta sesuatu sebagai balasan (kompensasi).

Kecerdikan AS (mungkin persetujuan Israel), dalam “trade-off gambit’, dengan melepaskan pencairan blokade finansial (ditukar dengan menghentikan program nuklir), timpang. Pula Iran (Oman), boleh memungut bea sebesar U$ 2 juta (£1,5 juta) per kapal yang lewat. Asal Iran memusnahkan program nuklirnya. Titik “deadlock”!

Karenan itu, keberanian Iran meninggalkan negosiasi, memunculkan statemen ‘distingtif’ (spesifik). Menolak permintaan AS (nuklir), semata karena Iran tahu, AS memiliki kelemahan argumen.

Nuklir Iran semata-mata untuk perdamaian, membela diri, dan pembangkit listrik (PLTN). Pengayaan uranium Iran, memunculkan paranoia Israel. Domain Israel-lah yang membuat Trump melakukan ‘distraktif’ (menolak) terkait nuklir Iran di Islamabad.

BRI Salurkan KPR Subsidi Rp17,13 Triliun hingga Akhir Maret 2026

Statemen Trump, sangat “mencekam”, setelah kegagalan negosiasi Islamabad. Trump akan memerintahkan AL-nya, mencegat setiap kapal yang telah membayar tol laut (Selat Hormuz) kepada Iran.

Trump tidak lagi menempatkan diri sebagai jurudamai yang berkredibilitas tinggi. Artinya, kapal-kapal Sahabat Iran (China, Pakistan, dan Malaysia), kalaupun lolos dari Selat Hormuz, dia akan menghadap ancaman Trump di mulut Samudra Hindia.

Negosiasi AS-Iran, mencakup Selat Hormuz, ganti rugi perang, aset yang dibekukan (US$ 6 milyar), sesungguhnya sudah ada titik temu.

Finansial US$ 6 miliar milik Iran, yang dibekukan tahun 2018 (setelah Trump berkuasa), seharusnya telah dicairkan tahun 2023 dengan imbalan pertukaran tahanan AS-Iran. Tetapi, Pemerintahan Joe Biden membekukannya kembali. Setelah serangan Hamas ke Israel, 7 Oktober 2023.

Kesepakatan final yang, mungkin diharapkan Trump lewat JD Vance, menemui jalan buntu. Embrio yang bisa menolong Trump di mata rakyat AS (tak setuju perang), menuju ke Pemilu Sela (3 November). Menjadi drama fragmen, menunggu episode berikutnya pasca-Islamabad.

Selat Hormuz menjadi satu-satunya senjata Iran untuk menantang Trump. Seperti sudah diingatkan Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine (sebelum 28 Pebruari), perangkat keras militer tak bisa melawan kekuatan geografis Iran.

Mengawal kapal tanker dengan kekuatan AS, Trump juga tak punya apa-apa untuk melawan biaya (kenaikan premi) Lloyd of London. Sebuah perusahaan asuransi pengiriman impor (minyak,gas, pupuk, helium, petrokimia) Timteng yang melewati Selat Hormuz.

Narasi Trump, kapan pun dia menginginkan perang AS-Iran berakhir, maka perang akan berakhir. Sebuah ‘sinisme’ yang dianggap lelucon oleh publik inklusif. Penolakan Iran atas proposal nuklir AS di Islamabad, menguji AS. Iran, pasti kini menunggu apa yang akan dilakukan Trump! Lanjut perang? Atau cukup?

BENDERA PUTIH
Bila Trump betul-betul ingin mengakhiri perang, demi menaikkan pamor-nya di dalam negeri. Bagaimana caranya? Jangan sampai muncul kesan, AS mengangkat bendera putih.

Lalu bagaimana dengan Israel? Sikap Trump tanpa kendali, dan mengumbar “argument clinic”, menggambarkan kekesalan dan kelemahannya terhadap durasi perang yang tak terduga. Membuat ‘disonansi kognitif’ (tidak nyaman) bagi banyak pihak, termasuk sekutu Eropa-nya.

Gencatan senjata dua minggu, dan kegagalan negosiasi “trade-off” Islamabad, merupakan ‘eufemisme’ atau, Trump ingin mengkondisikan akhir perang secara perlahan (gradual). Bisa saja nanti, peperangan hanya antara Iran-Israel saja, Israel dengan Hezbollah.

Tampilnya narasi membawa Iran ke “zaman batu”, menghancurkan jembatan, mengancam pembangkit listrik, makin memperlihatkan kekosongan strategi Trump dalam memenangkan perang secara brilian.

Kegagalan negosiasi Islamabad, mungkin sudah diduga, atau masuk dalam perencanaan Trump. Meski Trump mengisyaratkan perang, Israel memprediksi Washington tak akan melanjutkan pertempuran (setelah gencatan senjata dua minggu) berakhir 21 April (Yedioth Ahronoth, 13 April 2026).

STS Kalbut Jadi Urat Nadi Distribusi LPG Nusantara

Iran yang makin percaya diri dengan perang ‘atrisi’ (panjang), akan terus melawan AS setelah kegagalan negosiasi Tripartit (bersama Pakistan). “Jika kalian (AS-Israel) melawan, kami akan melawan! Jika kalian mengajukan logika, kami akan berlogika! Kami akan memberi pelajaran besar kepada kalian”, demikian Ketua Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf (The Guardian, 13 April 2026).

Sejatinya, kita berharap. Negosiasi tidak berhenti di Islamabad. AS dan Iran, harus sama-sama realistis melihat kekuatan dan kelemahan masing-masing. “Trade-off gambit”, konsesi-konsesi dalam negosiasi harus di-sinkronkan, agar ada titik temu.