Energi Opini
Beranda / Opini / Survival Iral: Pertaruhan Trump dan “Puisi” Kesombongan

Survival Iral: Pertaruhan Trump dan “Puisi” Kesombongan

Ilustrasi Perang Iran-AS (Foto: Antara)

Ditulis Oleh: Sabpri Piliang, Pengamat Geopolitik Timur Tengah

SAXON WHITE KESSINGER mungkin tak pernah membayangkan. Kalau AS, setelah dia berpulang (2010), akan dipimpin seseorang bernama Donald Trump.

Penyair dan penulis terbaik (AS) dengan penghargaan seumur hidup (2003), tak juga bermimpi. AS akan terlibat langsung (atau tidak) dalam kematian demi kematian pemimpin negara lain (Iran).

Puisi kesombongan berjudul “The Indispensable Man” menarasikan, analogi “ember air”. Mencelupkan tangan ke dalam air, meninggalkan sketsa (lubang), air kemudian melenyapkan lubang bekas tangan tadi. Betapa cepatnya posisi seseorang terganti.

PGE-PLN IP Sepakati Tarif Listrik, Proyek PLTP Lahendong Bottoming Unit 15 MW Melangkah ke Tahap Berikutnya

“Kadang kala ketika kamu merasa penting. Kadang ketika egomu sedang mengembang. Kadang ketika kamu menganggap remeh. Seakan kamu adalah yang paling hebat (kuasa) di ruang (dunia) ini”. Semua berakhir!

Puisi Saxon “Indispensable Man”, telah mengkonklusi, AS-Israel kalah dalam peperangan versus Iran. Kedua sekutu kental ini, urung menumbangkan Iran dalam tempo empat hari. Waktu ideal untuk kembali menstabilkan pasar finansial dan “oil & gas”.

Sekalipun bom-bom AS, atau Israel tanpa henti meluluhlantakkan Iran (Iran juga membalas), niscaya kendali perang, kini tetap dipegang Iran. Iran tetap tangguh, meski pemimpin level-‘One’-nya telah terbunuh.

Menjadi semakin jelas, AS dan Israel, bukan hanya telah mempermalukan mereka sendiri. Tetapi menjatuhkan harga diri Barat secara inklusif.

Konsep ‘Mosaic Defence’ (pertahanan desentralisasi), dan Selat Hormuz, telah memberi ketahanan ekstra Iran, sekalipun infrastruktur mereka dibumihanguskan ribuan ton bom AS-Israel.

AS telah gagal memenuhi tujuan strategisnya, meski sudah banyak yang mengingatkan. Kecerobohan Trump, mestinya dianalisis sejak dini. Narasi sarkastis Trump pada Spanyol dan Inggris. Keduanya bergeming (cuek), tetap memalingkan muka. Kalkulasi cerdas itu, kini terbukti.

Iran yang semakin tangguh, meski elite utamanya telah dibunuh AS-Israel. Kini tengah menuju pada ekuilibrium baru, setara dan memunculkan kekhawatiran akut pada AS.

Tidaklah sederhana, diksi ancaman Trump bertempo 48 jam, kemudian berubah lima hari (120 jam), dan berubah lagi menjadi 240 jam (10 hari). “Argument clinic” seperti ini, tidak lagi memperlihatkan ‘posisional’ negosiasi negara ‘superpower’, yang punya daya paksa absolut.

“Maju kena, mundur kena”! Katakanlah 10 hari (setelah 6 April 2026) terlewati, Iran tetap tidak akan menerima rancangan 15 point Trump, utamanya membuka blokade Selat Hormuz. Trump mau apa? Mau membom pembangkit listrik yang praktis infrastruktur sipil? Itu adalah kejahatan perang. Trump, tentu tak ingin disamakan dengan Netanyahu.

Saxon White Kessinger, menambah narasi puisinya dengan diksi. “Lihatlah, bagaimana hal itu merendahkan jiwamu? Ambil ember dan isi dengan air. Kamu dapat mencipratkan air sebanyak yang kamu suka. Berhentilah”!

Trump, tidak selamanya menjadi Presiden AS, ada masanya tergantikan. Keputusan Trump menyerang Iran bersama Israel, akan menyulitkannya di kemudian hari. Terdekat, Pemilu Sela (3 November 2026), bisa berujung ‘impeachment’, karena dianggap melanggar hukum dan tercela.

Selat Hormuz yang menjadi inti kepanikan AS saat ini, tidak bisa melibatkan pihak lain untuk membukanya. Selat sempit selebar 21 mil (34 km) ini, merupakan wilayah kedaulatan Iran yang sah.

Trump, bisa disebut telah gagal menjalankan misinya, dan dunia kesal karena menimbulkan pukulan telak pada ekonomi global. Terlebih, Trump tak dapat memastikan, atau memutuskan kapan konflik AS-Iran akan berakhir. Sesuatu hal sensitif dalam pasar finansial. Yaitu, “kepastian”!

Deadlock Islamabad, Membaca “Trade-Off Gambit” AS-Iran

Berulang-ulang bernarasi: perang mendekati akhir, kita telah menang, perundingan produktif, merupakan ilusi kendali Trump untuk me-‘manaj’ pasar. Betul, tapi temporer karena kendali kepastian saat ini bukan di tangan Trump. Tapi, Iran yang menentukan.

Betul, pasar (market) menyambut baik, AS telah mengirimkan rencana perdamaian pada Iran. Namun, para investor menyadari statemen Trump tidak memiliki banyak pengaruh saat ini. Kegagalan Trump mencegah pembunuhan lanjutan Israel pada elite militer Iran, memperlihatkan melemahnya kekuasaan Trump untuk mengendalikan peristiwa.

Peristiwa itu, kemudian “memakan” Trump sendiri, tanpa bisa meminta bantuan siapa pun. Termasuk bantuan pada kawan (NATO, Uni Eropa, G7), atau lembaga kredibel yang disebut Dewan Keamanan (Security Council) PBB. Pasalnya, menyerang Iran, adalah melanggar Piagam PBB. Semua menjaga jarak.

Ego Trump, yang mungkin terhasut Israel, atau atas tekanan lobi Yahudi AS, AIPAC (American Israel Public Affairs Committe), telah gagal memoles realitas “aturan main” berbasis tatanan.

Serangan terhadap Iran, ketika kesepakatan nuklir Iran-AS diambang “ketok palu”, telah membenturkan ruang bawah sadar Trump pada dua sisi yang sama-sama tidak terakses. Yaitu, kebenaran dan kepalsuan.

“Disonansi Kognitif” Trump bisa saja kini terjadi. Memegang dua gagasan kontradiktif secara bersamaan: merasa tak mampu memperpanjang perang, dan takut malu dianggap lemah (meminta damai), itulah yang membuat Trump memperpanjang tenggat 2 hari, berubah 5 hari, berubah lagi 10 hari.

Sikap Trump ini, bukanlah kebaikan hati. Bukan pula satu sikap bijak! Tapi, tengah “memohon”, agar Iran-lah yang meminta menyudahi peperangan. Linear, jangan Trump yang memohon!

Mengeluarkan biaya US$ 30-40 milyar per hari bagi AS, dan US$ 300 juta per hari (Israel), dalam upayanya mengalahkan Iran, tanpa hasil signifikan. Telah menjerumuskan keduanya pada benang kusut yang tiada Tara.

Alih-alih Iran setuju dengan 15 permintaan AS, kini malah semakin terjal. Dua akibat kecerobohan AS-Israel, kepemimpinan baru Iran mengeras, dan terjadi kebangkitan sel tidur (proxi) Iran di negara Teluk. Berbahaya, bisa mengubah negara sultan menjadi negara demokrasi konstitusional/teokrasi model Iran.

SEL TIDUR

Negara-negara Teluk yang tergabung di Dewan Kerjasama Teluk (GCC), kini dalam keadaan gelisah. Sadar, perlindungan AS terhadap mereka, berderajat satu level, bahkan dua level di bawah Israel.

Kegagalan AS menjatuhkan rezim teokrasi, setelah terbunuhnya Ayatollah Ali Khamenei, serta “menyerahnya” Trump oleh daya tahan rezim Iran. Menjadi satu preseden!

Negara Teluk (di luar Oman), bisa dijatuhkan, lewat proxi yang selama ini tidur. Optimistis itu, makin membuncah, manakala 10 hari mendatang, Iran bergeming dengan 15 permintaan AS sebagai isyarat damai.

STS Kalbut Jadi Urat Nadi Distribusi LPG Nusantara

Kekhawatiran itu mulai muncul, setelah Trump gagal mengganti rezim, memasuki minggu ke-5 perang. Padahal gempuran AS-Israel sudah optimal. Rezim teokrasi kuat.

Indikator-nya, mulai berjalan. “The Guardian” (28 Maret 2026) menyebutkan, Kuwait telah menggagalkan rencana pembunuhan terhadap pemimpin negara. Enam tersangka yang diyakini terkait proxi Iran paling kuat di Kuwait (Hizbullah), telah ditangkap.

Iran, memang tidak berperang dengan negara Teluk, meskipun mereka berkawan dengan AS-Israel. Namun, serangan 28 Pebruari, telah membuka cakrawala lama kebijakan luar negeri Iran. Meng-ekspor revolusi 1979, dan memperluas pengaruh regional. Sukses di Lebanon (Hezbollah) dan Houthi (Yaman).

Semisal, perang yang dimulai AS-Israel terhadap Iran berlangsung atrisi, atau Iran menolak negosiasi “ecek-ecek” seperti yang sudah-sudah, maka enam negara Teluk ini terancam de-stabilitas sel tidur Iran.

Qatar dan Bahrain, seperti halnya Kuwait, juga melakukan kewaspadaan maksimal memperhatikan sel-sel tidur Iran di negaranya. Dua sel tidur yang melibatkan 10 orang telah ditangkap Qatar, Bahrain pun juga menangkap sejumlah orang berkait spionase Iran.

Sementara Arab Saudi, pun tak luput dari ancaman proxi Iran. Sekalipun Arab Saudi, Qatar, dan UEA telah menjalin hubungan baik selama ini, seramgan AS+Israel telah mengubah arsitektur hubungan itu. Dalihnya, di ketiga negara Teluk ini, terdapat Pangkalan militer AS sebagai target sah.

Milisi Hizbullah al-Hejaz, yang merupakan proxi Iran di Arab Saudi , sangat mengkhawatirkan stabilitas negara. Milisi ini, memiliki sejarah kekerasan sejak lama, dan tertidur saat hubungan Arab Saudi-Iran membaik.

Lumrah, bila negara Teluk kini cemas. Perang Atrisi (panjang), akan mendorong Iran mengaktifkan kembali sel-sel tidurnya, seperti di Irak. Katib Hezbollah, proxi Iran di Irak kini sangat kuat. Seperti halnya Houthi (Yaman), Katib (Irak) sudah seperti negara dalam negara menguasai Irak.

Semua karena kesalahan AS. Melakukan hal sama seperti Trump, Presiden George Bush (2003), berdalih palsu menyerang Irak. Seolah Saddam Hussein menyimpan senjata pemusnah massal. Malah menghidupkan sel tidur Iran (Katib Hezbollah di Irak).

Akankah Trump mengulanginya? Negara Teluk berantakan, sebagai akibat menguatnya sel tidur Iran. Pujangga Saxon White Kessinger (buku: Leader Shift, John C. Maxwell: 2019) kembali mengingatkan dalam narasi “Ember Air”.