Jakarta, Artha Bhumi.id – Di tengah tekanan pasar modal Indonesia pada kuartal I 2026, emiten yang tergabung dalam Pertamina Group menunjukkan ketahanan yang mencerminkan karakter sektor energi sebagai penopang stabilitas di fase ketidakpastian global.
Tekanan pasar tidak bisa dilepaskan dari lonjakan volatilitas harga minyak dan gas dunia sepanjang awal tahun. Sejak Januari 2026, harga minyak bergerak dari kisaran US$60 per barel dan melonjak signifikan hingga menembus US$100–US$120 per barel pada Maret–April, dipicu eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan gangguan distribusi di Selat Hormuz.
Bahkan, dalam beberapa fase, harga Brent sempat menyentuh level di atas US$120 per barel—tertinggi dalam beberapa tahun terakhir—seiring kekhawatiran gangguan pasokan global.
Premi Risiko Energi Dorong Resiliensi
Kenaikan tajam tersebut menciptakan “geopolitical risk premium” yang memperkuat valuasi sektor energi, termasuk emiten berbasis migas dan energi terintegrasi.
VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menilai fluktuasi pasar saham lebih dipengaruhi faktor eksternal.
“Fluktuasi pasar lebih mencerminkan dinamika risiko global dan domestik. Secara operasional, emiten Pertamina Group tetap berada dalam jalur kinerja yang solid,” ujarnya di Jakarta, Senin (4/5/26).
Dalam konteks ini, lonjakan harga minyak justru menjadi penopang bagi emiten seperti PGAS, ELSA, PGEO, dan TUGU yang memiliki eksposur langsung maupun tidak langsung terhadap rantai nilai energi.
Khusus pada segmen hulu dan jasa energi, kenaikan harga minyak berimplikasi pada peningkatan aktivitas eksplorasi dan produksi global, yang pada akhirnya menopang permintaan jasa penunjang energi.
Volatilitas Tinggi, Bukan Tren Stabil
Meski memberikan dukungan jangka pendek, pergerakan harga migas global masih sangat volatil. Ketidakpastian terkait konflik Iran–AS serta potensi gangguan berkepanjangan di jalur distribusi utama membuat harga minyak bergerak fluktuatif dalam rentang lebar.
Bank Dunia bahkan memproyeksikan harga energi global berpotensi naik hingga 24% pada 2026 jika konflik berlanjut, dengan rata-rata harga minyak bisa berada di kisaran US$86 per barel dan berpotensi melonjak hingga US$115 dalam skenario tekanan berkepanjangan.
Sementara itu, sejumlah lembaga keuangan global memperkirakan harga Brent tetap tinggi di kisaran US$90–US$100 per barel sepanjang 2026 akibat premi risiko geopolitik yang belum mereda.
Fondasi Domestik Jadi Penyeimbang
Di tengah dinamika global tersebut, kekuatan utama emiten Pertamina Group tetap berada pada basis permintaan domestik yang stabil. Konsumsi energi nasional yang terus tumbuh menjadi bantalan terhadap volatilitas eksternal.
Selain itu, peran gas bumi sebagai energi transisi serta pengembangan panas bumi memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara ketahanan energi dan agenda dekarbonisasi.
Arah Strategis: Dual Growth dan Transisi Energi
Pertamina menegaskan bahwa kondisi saat ini menjadi momentum untuk memperkuat strategi dual growth—menjaga bisnis inti berbasis fosil sekaligus mempercepat pengembangan energi rendah karbon.
“Kami tidak hanya menjaga stabilitas bisnis, tetapi juga mempercepat transformasi menuju portofolio energi berkelanjutan,” kata Baron.
Dengan kombinasi harga migas global yang masih tinggi, struktur permintaan domestik yang kuat, serta percepatan transisi energi, emiten Pertamina Group dinilai berada dalam posisi relatif defensif di tengah tekanan pasar modal yang masih berlanjut.

