Ekonomi
Beranda / Ekonomi / IHSG dan Rupiah Rontok, Menkeu Purbaya Klaim Fundamental Ekonomi dan Fiskal Baik

IHSG dan Rupiah Rontok, Menkeu Purbaya Klaim Fundamental Ekonomi dan Fiskal Baik

Menkeu Purbaya (Foto: Kemenkeu)

Jakarta, ArthaBhumi.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa kembali menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi yang sangat baik dan kokoh.

Pernyataan itu disampaikan Menkeu usai pertemuan tertutup bersama jajaran pimpinan DPR RI dan Bank Indonesia (BI) di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Sabtu (06/06).

Pertemuan strategis ini dihadiri oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Mohamad Hekal, Gubernur BI Perry Warjiyo, dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

Di tengah dinamika nilai tukar yang fluktuatif, Menkeu memastikan kondisi fiskal negara tetap terjaga berkat pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang pruden.

Target 2027, Pertumbuhan Ekonomi 5,8–6,5 Persen, Defisit Dijaga di Bawah 2,4 Persen

“Dari pertemuan APBN KiTa kemarin sudah kelihatan fundamental ekonomi kita baik, fiskal juga dalam keadaan baik, amat baik malah kalau kita lihat dari acuan-acuan yang ada,” ujar Menkeu.

Pemerintah tetap berkomitmen mengarahkan instrumen fiskal guna memacu akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional ke depan agar berjalan semakin cepat.

Untuk menghadapi pelemahan nilai tukar, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan BI terus memperkuat koordinasi. Sinergi yang solid antara kebijakan moneter (BI) dan kebijakan fiskal (Kemenkeu) akan menjadi kunci utama dalam memulihkan kepercayaan pasar.

“Dalam perjalanannya tentu kita akan meningkatkan juga koordinasi dengan bank sentral supaya kebijakan semakin sinkron, supaya dampak kebijakan antara moneter dan fiskal lebih signifikan ke perekonomian. Tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke rupiah,” jelas Menkeu.

Selanjutnya Menkeu optimis stabilisasi rupiah dapat langsung meredam gejolak harga barang pokok di pasar.

“Dengan nanti kebijakan yang bagus, itu kita akan melihat rupiah yang lebih stabil, sehingga para pedagang tahu, tempe dan ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga yang lebih baik dan tidak terbebani lagi, tidak mengalami keadaan beban hidup yang terlalu signifikan. Jadi sinkronisasi kebijakan ini amat baik sekali untuk ekonomi kita di level makro maupun di level mikro ke depannya,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan tajam sepanjang pekan pertama Juni 2026. Pada awal pekan (1 Juni), rupiah masih ditutup menguat di kisaran Rp17.805 per dolar AS. Namun tekanan terus meningkat hingga mendekati dan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada akhir pekan.

Pada perdagangan Jumat (5/6), rupiah sempat berada di kisaran Rp18.037–Rp18.067 per dolar AS, menjadikannya salah satu level terlemah dalam beberapa tahun terakhir. Pelemahan dipicu penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik global, serta meningkatnya permintaan aset safe haven.

  • Awal pekan: sekitar Rp17.805/USD.
  • Akhir pekan: sekitar Rp18.050–18.070/USD.
  • Pelemahan mingguan sekitar 1,3–1,5 persen.

Pasar saham domestik juga mengalami tekanan berat. Setelah sempat bergerak fluktuatif di awal pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melemah dan pada penutupan Jumat (5/6) anjlok 4,20 persen ke level 5.594,77. Level tersebut menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir.

Tekanan terjadi hampir di seluruh sektor, terutama:

  • Transportasi (-5,97%)
  • Energi (-5,73%)
  • Industri (-5,72%)

Investor asing juga masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell), terutama pada saham-saham perbankan besar seperti BBCA dan BBRI.

Sorotan utama:

  • IHSG 4 Juni: 5.839,79.
  • IHSG 5 Juni: 5.594,77.
  • Koreksi harian 5 Juni: -4,20%.
  • Menjadi level terendah sejak 2021
Akhir Mei 2026, Penerimaan Pajak Naik 22,1 Persen