Energi
Beranda / Energi / Pertagas Resmi Jadi Operator Cisem II, Perkuat Integrasi Infrastruktur Gas Nasional

Pertagas Resmi Jadi Operator Cisem II, Perkuat Integrasi Infrastruktur Gas Nasional

Pertagas Cisem II (Foto: Pertamina)

Jakarta, Artha Bhumi.id – PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas PT Pertamina (Persero) ditetapkan sebagai operator Pipa Transmisi Gas Bumi Ruas Batang-Cirebon-Kandang Haur Timur (Cisem II) pada April 2026 lalu.

Penetapan tersebut setelah memenangkan tender pemilihan mitra yang dilakukan Kementerian ESDM RI melalui LEMIGAS.

Adapun pipa ini merupakan bagian dari Pipa Transmisi Cirebon-Semarang (Cisem) dimana pada tahap sebelumnya telah terbangun dan beroperasi untuk ruas Semarang-Batang (Cisem I).

“Pertagas telah memiliki pengalaman sebagai operator Pipa Cisem I sejak tahun 2023,” kata Direktur Utama Pertagas Indra P Sembiring di Jakarta, Jumat (8/5/26).

Akhirnya Pertamax Naik dari Rp12.300/liter Jadi Rp16.250/liter

Perusahaan meyakini bahwa kompetensi dan pengalaman yang dimiliki menunjukan kesiapan untuk mengoperasikan seluruh jaringan pipa tersebut dalam menyalurkan gas ke berbagai sektor pengguna gas bumi nasional.

“Ketersediaan infrastruktur gas yang terintegrasi dan handal adalah kunci untuk mempercepat transisi energi nasional dengan gas bumi. Energi yang disalurkan melalui pipa Cisem ini akan menjawab kebutuhan industri dan berbagai sektor lainnya atas energi yang bersih, lalu juga memberikan nilai tambah sektor hulu migas, dan yang terpenting adalah mendukung pertumbuhan perekonomian di Indonesia,” ujar Indra.

Pipa Cisem 2, imbuh Indra, merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mengintegrasikan infrastruktur pipa gas bumi di Indonesia. Keberadaan lokasi sumur gas bumi yang berbeda dengan pasar pengguna gas bumi utama, saat ini telah terhubung melalui Pipa Transmisi Cirebon-Semarang dan Pipa Transmisi Gresik-Semarang.

“Jadi, Pipa Cisem II sepanjang ±242 km menjadi game changer, karena terhubung dengan infrastruktur eksisting Pertagas di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur sehingga akan memperkuat keandalan penyaluran di Infrastruktur energi di Pulau Jawa,” imbuh Indra.

Direktur Teknik & Operasi Pertagas, Agung Indri Pramantyo menambahkan jaringan Pipa Cisem II saat ini sudah teintegrasi dengan Ruas Pipa CISEM I di Kawasan Industri Batang (KITB) di Jawa Tengah yang dioperasikan Pertagas dan Stasiun Kandang Haur Timur (KHT), Operation West Java Area milik Pertagas.

“Integrasi ini membentuk sistem jaringan pipa yang terintegrasi serta memberikan fleksibilitas pengoperasian dan kehandalan infrastruktur gas bumi, khususnya yang kami operasikan,” ujar Agung.

Ia menambahkan, terintegrasinya Pipa Cisem II dengan infrastruktur transmisi gas bumi nasional di lingkungan Subholding Gas tidak hanya memperkuat pasokan energi bagi sektor strategis seperti kilang, pupuk, dan pembangkit listrik, tetapi juga mendukung program pemerintah dalam pengembangan Gas untuk Rumah Tangga dan UMKM di sepanjang jalur pipa. Upaya ini diharapkan memperluas akses energi dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Infrastruktur Energi dan Peta Baru Industrialisasi Jawa

Di luar aspek teknis, pengoperasian Cisem II mencerminkan perubahan arah kebijakan energi nasional yang kini semakin menempatkan gas bumi sebagai “jembatan transisi” menuju sistem energi rendah karbon. Pemerintah tampaknya mulai menyadari bahwa tantangan energi Indonesia bukan semata soal produksi, melainkan keterhubungan antara sumber gas dengan pusat-pusat permintaan industri.

Selama bertahun-tahun, disparitas lokasi sumur gas dan kawasan industri menjadi salah satu hambatan utama optimalisasi gas domestik. Sebagian wilayah industri di Jawa masih menghadapi keterbatasan akses gas pipa dan bergantung pada energi yang lebih mahal atau kurang efisien. Kehadiran Cisem II berpotensi mengurangi bottleneck tersebut dengan membentuk koridor distribusi gas terintegrasi dari Jawa Timur hingga Jawa Barat.

Posisi proyek ini menjadi semakin penting seiring berkembangnya kawasan industri baru di Pantai Utara Jawa, termasuk Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) yang diproyeksikan menjadi magnet investasi manufaktur nasional. Infrastruktur energi yang andal menjadi syarat utama bagi investor sektor petrokimia, baja, keramik, kaca, pupuk, hingga data center yang memiliki kebutuhan energi besar dan stabil.

Dalam konteks tersebut, Cisem II bukan hanya proyek transmisi gas, tetapi juga infrastruktur ekonomi. Pipa gas menjadi “urat nadi” yang menentukan daya saing kawasan industri dan efisiensi biaya produksi nasional.

Menekan Ketergantungan LPG dan BBM

Relaksasi Produksi Batu Bara, Langkah Strategis Jaga Keberlanjutan Operasi

Integrasi jaringan gas bumi nasional juga memiliki implikasi fiskal yang signifikan. Selama ini Indonesia masih menghadapi beban impor LPG dan BBM yang tinggi akibat belum optimalnya pemanfaatan gas domestik. Dengan semakin luasnya jaringan transmisi, pemerintah memiliki peluang memperbesar penetrasi gas untuk rumah tangga, UMKM, hingga pembangkit listrik.

Apabila konektivitas hilir berhasil diperluas, maka utilisasi gas domestik dapat meningkat dan secara bertahap mengurangi tekanan impor energi. Ini penting di tengah volatilitas geopolitik global dan fluktuasi harga energi internasional yang masih menjadi risiko utama bagi ketahanan energi nasional.

Di sisi lain, keberhasilan integrasi Cisem II juga akan menjadi ujian bagi kesiapan Indonesia membangun model “national gas backbone” atau tulang punggung jaringan gas nasional yang selama ini kerap tertunda akibat persoalan investasi, tata kelola, dan sinkronisasi antarwilayah.

Karena itu, penunjukan Pertagas sebagai operator tidak hanya membawa konsekuensi operasional, tetapi juga ekspektasi besar bahwa BUMN energi mampu menghadirkan sistem distribusi gas yang efisien, terintegrasi, dan mendukung agenda industrialisasi nasional jangka panjang.