Jakarta, Arthabhumi.id – PT Pertamina Patra Niaga terus mempercepat pemulihan layanan BBM di Bali melalui penguatan armada mobil tangki, penambahan personel, optimalisasi operasional terminal selama 24 jam, serta kedatangan kapal pengangkut BBM. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat distribusi ke SPBU dan membantu mengurai antrean yang masih terjadi di sejumlah wilayah Bali.
Penguatan distribusi dilakukan dengan menyiagakan 108 mobil tangki, terdiri dari 99 unit mobil tangki standby dan 9 unit mobil tangki spot charter. Kesiapan armada tersebut didukung oleh 465 Awak Mobil Tangki (AMT), termasuk 365 personel standby dan 100 personel perbantuan lintas daerah. Penambahan armada dan personel ini menjadi bagian dari upaya mempercepat penyaluran BBM dari terminal menuju SPBU.
Selain itu, Fuel Terminal (FT) Sanggaran dan Integrated Terminal (IT) Manggis dioperasikan selama 24 jam untuk mendukung kelancaran proses distribusi. Penguatan pasokan juga dilakukan melalui kedatangan kapal pengangkut BBM yang telah bersandar, sehingga proses penerimaan dan penyaluran BBM dapat terus dioptimalkan sesuai kebutuhan di lapangan.
Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyampaikan bahwa berbagai langkah operasional terus dilakukan secara terintegrasi untuk mempercepat pemulihan layanan BBM di Bali.
“Pertamina Patra Niaga terus mengoptimalkan distribusi BBM di Bali melalui penguatan armada mobil tangki, dukungan personel lintas daerah, operasional terminal selama 24 jam, serta optimalisasi pasokan melalui kapal yang telah bersandar. Seluruh upaya ini dilakukan untuk mempercepat penyaluran BBM ke SPBU, membantu mengurai antrean, dan meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan BBM,” ujar Kitty dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (15/10/26).
Untuk mendukung akses masyarakat terhadap BBM, sebanyak 66 SPBU di Denpasar dan Badung juga beroperasi selama 24 jam. Pengoperasian SPBU tersebut diharapkan dapat memberikan lebih banyak pilihan waktu bagi masyarakat untuk mendapatkan BBM sekaligus mendukung upaya pemulihan layanan di berbagai wilayah.
Di tengah percepatan distribusi, Pertamina Patra Niaga tetap mengutamakan aspek keselamatan. Setiap Awak Mobil Tangki wajib menjalani pemeriksaan kesiapan kerja (fit to work) sebelum bertugas. Pengaturan rotasi kerja juga diterapkan untuk menjaga stamina personel dan mencegah kelelahan, sehingga proses penyaluran BBM dapat berlangsung dengan aman.
Pertamina Patra Niaga terus memperkuat koordinasi dan mengoptimalkan seluruh rantai distribusi BBM untuk mendukung pemulihan layanan di Bali.
Latar belakang
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda sejumlah wilayah di Bali pada 11–14 Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan stok, tetapi juga kemampuan mendistribusikan BBM hingga ke konsumen akhir.
Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) memperlihatkan kerentanan rantai pasok energi ketika pengiriman dari terminal penyimpanan menuju titik penjualan mengalami hambatan. Sejumlah SPBU dilaporkan kehabisan Pertalite dan Pertamax, sementara masyarakat harus berpindah-pindah lokasi untuk mendapatkan bahan bakar.
Persoalan tersebut menjadi perhatian karena Bali merupakan salah satu pusat pariwisata nasional yang aktivitas ekonominya bergantung pada kelancaran transportasi darat, mobilitas pekerja, distribusi barang, serta pergerakan wisatawan.
Gangguan kapal tanker menjadi pemicu
Salah satu penyebab utama gangguan pasokan BBM di Bali adalah kendala teknis dalam proses bongkar muat kapal pengangkut BBM. Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas antrean yang terjadi di berbagai SPBU.
Kendala teknis pada kapal tanker menghambat proses bongkar muat sehingga pasokan tidak dapat disalurkan sesuai jadwal. Kondisi tersebut berdampak pada ketersediaan BBM di sejumlah SPBU.
Faktor cuaca dan kondisi perairan turut menjadi tantangan bagi distribusi energi yang mengandalkan jalur laut. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan keterlambatan kapal pengangkut BBM menjadi penyebab gangguan distribusi di Bali.
Gelombang tinggi dapat menghambat kapal bersandar dan memperlambat proses bongkar muat, meskipun kapal telah tiba di wilayah tujuan. Akibatnya, keterlambatan pada satu tahapan distribusi dapat memengaruhi pasokan di terminal dan SPBU berikutnya.
Peristiwa ini menunjukkan pentingnya keandalan armada pengangkut, kesiapan fasilitas bongkar muat, serta ketersediaan alternatif operasional ketika pengiriman utama mengalami gangguan.
Stok nasional aman, tetapi pasokan di SPBU terganggu
Pemerintah menegaskan bahwa gangguan di Bali bukan disebabkan oleh habisnya persediaan BBM nasional.
Laode Sulaeman menyebut ketahanan stok BBM nasional berada pada kisaran 18–20 hari. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyatakan ketahanan stok nasional berada pada kisaran 16–18 hari. Perbedaan angka tersebut berasal dari pernyataan masing-masing pejabat pada 14 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut memperlihatkan perbedaan antara ketersediaan stok secara agregat dan kelancaran distribusi di suatu wilayah.
Stok yang tersedia di terminal penyimpanan belum tentu langsung dapat diakses konsumen apabila proses pengangkutan, bongkar muat, pengiriman dengan mobil tangki, atau penyaluran ke SPBU mengalami hambatan.
Dalam sistem distribusi BBM, keterlambatan pada satu titik dapat menimbulkan efek berantai. Ketika pasokan baru belum tiba, persediaan di SPBU terus berkurang mengikuti konsumsi harian. SPBU yang masih memiliki stok kemudian menjadi tujuan konsumen dari wilayah yang lebih luas, sehingga persediaannya lebih cepat terkuras.
Dengan demikian, ketahanan energi perlu dilihat tidak hanya berdasarkan jumlah stok nasional, tetapi juga pemerataan pasokan, ketahanan logistik regional, dan kecepatan pemulihan distribusi.
Lonjakan permintaan memperbesar tekanan
Gangguan distribusi juga diperberat oleh meningkatnya pembelian BBM secara bersamaan. Gubernur Bali I Wayan Koster menyebut kepanikan masyarakat yang khawatir kehabisan bahan bakar ikut mempercepat habisnya persediaan di SPBU. Antrean dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Denpasar, Badung, Tabanan, Klungkung, Buleleng, dan Bangli. Di beberapa lokasi, antrean kendaraan bahkan mengular hingga jalan raya.
Situasi ini membentuk siklus yang dapat memperburuk gangguan pasokan. Ketika masyarakat melihat SPBU kehabisan BBM, muncul kekhawatiran bahwa stok di lokasi lain juga akan habis. Konsumen kemudian mengisi bahan bakar lebih cepat atau berpindah ke SPBU yang masih beroperasi.
Lonjakan permintaan dalam waktu singkat tersebut membuat pola konsumsi harian berubah dan menambah tekanan terhadap stok yang tersedia di masing-masing SPBU.
Namun, pembelian masyarakat bukan satu-satunya faktor. Kepanikan lebih tepat dipahami sebagai faktor yang memperbesar dampak gangguan distribusi, bukan sebagai pengganti penjelasan mengenai keterlambatan pasokan.
Dampak terhadap pariwisata dan kegiatan ekonomi
Krisis BBM berpotensi memengaruhi kegiatan ekonomi Bali karena transportasi menjadi penghubung utama antara kawasan wisata, penginapan, pusat perdagangan, pelabuhan, dan permukiman.
Gangguan pengisian bahan bakar dapat menghambat operasional kendaraan pariwisata, taksi, angkutan daring, kendaraan logistik, serta aktivitas usaha yang membutuhkan mobilitas harian.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali memperkirakan dampak gangguan pasokan BBM terhadap perekonomian daerah masih terbatas dan bersifat sementara, seiring dengan berlangsungnya normalisasi distribusi. Meski demikian, BI mengakui kendala tersebut memengaruhi kelancaran mobilitas masyarakat dan wisatawan serta menyebabkan keterlambatan sebagian aktivitas operasional usaha.
Dampak yang lebih luas akan bergantung pada berapa lama gangguan berlangsung dan seberapa cepat pasokan kembali normal. Jika berlangsung singkat, dampaknya berpotensi terbatas pada waktu perjalanan dan operasional harian. Sebaliknya, gangguan yang berkepanjangan dapat meningkatkan biaya operasional dan mengganggu jadwal pelayanan usaha.
Pasokan tambahan dan percepatan distribusi
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah dan Pertamina mempercepat penyaluran BBM ke SPBU. Pada 14 Oktober 2026, pemerintah menyatakan kapal pengangkut BBM telah tiba dan distribusi dilakukan selama 24 jam untuk mempercepat pemulihan pasokan. Pemerintah memperkirakan persoalan dapat teratasi pada 14–15 Oktober 2026.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dari pemulihan jangka pendek. Namun, normalisasi perlu dilihat dari kondisi nyata di lapangan, termasuk ketersediaan Pertalite dan Pertamax di berbagai kabupaten, berkurangnya antrean, serta pulihnya pelayanan SPBU.
Kedatangan kapal juga bukan satu-satunya indikator. BBM masih harus melalui tahapan bongkar muat, penyimpanan, pengisian mobil tangki, dan pengiriman ke masing-masing SPBU sebelum dapat digunakan masyarakat.
Ketahanan energi tidak cukup diukur dari stok
Krisis BBM di Bali memberikan pelajaran bahwa sistem pasokan energi membutuhkan lebih dari sekadar persediaan yang memadai. Keandalan infrastruktur, ketepatan jadwal pengiriman, kesiapan menghadapi cuaca buruk, serta kemampuan merespons lonjakan permintaan sama pentingnya.
Ke depan, evaluasi distribusi perlu mencakup kecukupan stok operasional di terminal dan SPBU, efektivitas cadangan pasokan regional, fleksibilitas rute pengiriman, serta sistem informasi yang memungkinkan masyarakat mengetahui ketersediaan BBM secara lebih akurat.
Transparansi informasi juga penting untuk mencegah kepanikan. Informasi yang jelas mengenai stok, jadwal distribusi, dan lokasi SPBU yang masih melayani konsumen dapat membantu menjaga pola pembelian tetap wajar.

